Selasa, 27 Oktober 2009

Teknologi Pemanfaatan Lahan Kering

TEKNOLOGI PEMANFAATAN LAHAN KERING

1. Pendahuluan

Pada tahun 1984 Indonesia pernah dinyatakan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization atau FAO) sebagai negara yang mampun memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, khususnya beras atau lebih dikenal dengan Swa Sembada Beras (Hamzah, 2003).

Keadaan seperti itu tidak bertahan lama karena tahun-tahun setelah itu Indonesia harus mengimport beras dan bahan pangan lainnya seperti jagung dan kedele dalam jumlah yang semakin bertambah. Sebagai ilustrasi, negara kita mengimport beras rata-rata 1.4 juta ton setiap tahun, terbesar nomor satu di dunia; import gula rata-rata 1.4 juta ton setiap tahun, terbesar nomor dua di dunia; import jagung rata-rata 1.5 juta ton setiap tahun, dan import kedele telah mencapai 1.35 juta ton pada tahun 2001; (Yudohusodo, 2003).

Tantangan pembangunan pertanian di masa mendatang adalah penyediaan pangan bagi penduduk, yang lebih dikenal dengan istilah ketahanan pangan. Menurut UU Pangan Nomor 7 tahuan 1996 pasal 1 ayat 17, ketahanan pangan didefinisikan sebagai kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup dalam jumlah, mutu, aman, merata dan terjangkau. Sedangkan menurut World Food Conference on Human Right 1993 dan World Food Summit 1996 adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan gizi setiap individu dalam jumlah dan mutu agar dapat hidup aktif dan sehat secara berkesinambungan sesuai dengan budaya setempat (Mahfudz, 2001)

Tantangan penyediaan pangan semakin hari semakin berat. Degradasi lahan dan lingkungan, baik oleh ulah manusia maupun gangguan alam, semakin meningkat. Lahan subur untuk pertanian banyak beralih fungsi menjadi lahan nonpertanian. Sebagai akibatnya kegiatan-kegiatan budidaya pertanian bergeser ke lahan-lahan kritis yang memerlukan input tinggi dan mahal untuk menghasilkan produk pangan per satuan luas. (Mahfudz, 2001). Begitu juga di Pulau Jawa, lahan sawah terus berkurang, sementara itu perluasan areal sawah di luar Jawa memerlukan waktu lama dan dana yang besar. Oleh sebab itu lahan kering harus lebih berperan dalam menopang swasembada pangan. Namun, pertanian lahan kering mempunyai banyak permasalahan, antara lain lahannya marginal dengan ketersediaan air yang terbatas, terbatasnya varietas tanaman yang sesuai, belum berkembangnya teknologi budidaya, serta rendahnya pendapatan petani (Anonim, 1995 dalam Suyana, 2003).

Kendala utama yang dihadapi dalam pengelolaan lahan kering adalah cepatnya penurunan produktivitas tanah. Pada tanah yang bervegetasi hutan asli, unsur hara terpelihara dalam daur tertutup, sehingga sangat sedikit terjadi kehilangan unsur hara. Kehilangan hara lewat pencucian ke bawah akan diimbangi penyerapan oleh akar tanaman ke atas, selanjutnya daur tanaman akan kembali ke permukaan tanah (William and Joseph, 1970 dalam Suyana, 2003).

Pembangunan pertanian di lahan kering jauh lebih komplek apabila dibandingkan dengan di dataran rendah. Potensi sumberdaya ini sangat dibatasi oleh kemiringan lahan, tingkat erosi, aksesibilitas terhadap infrastruktur, pasar dan kemudahan untuk memperoleh fasilitas, serta keadaan sosial-ekonomi masyarakat setempat (Satari, 1988 dalam Suyana, 2003).

2. Lahan Kering

Pengertian lahan kering adalah lahan tadah hujan (rainfed) yang dapat diusahakan secara sawah (lowland, wetland) atau secara tegal atau ladang (upland). Lahan kering pada umumnya berupa lahan atasan, kriteria yang membedakan lahan kering adalah sumber air. Sumber air bagi lahan kering adalah air hujan, sedangkan bagi lahan basah disamping air hujan juga dari sumber air irigasi. (Notohadiprawiro, 1988 dalam Suyana, 2003). Selanjutnya dikatakan bahwa Indonesia mempunyai asset nasional berupa pertanian lahan kering sekitar 111,4 juta ha atau 58,5% dari luas seluruh daratan.

Pertanian lahan kering mempunyai kondisi fisik dan potensi lahan sangat beragam dengan kondisi sosial ekonomi petani umumnya kurang mampu dengan sumberdaya lahan pertanian terbatas. Lahan kering merupakan sumberdaya pertanian terbesar ditinjau dari segi luasnya, namun profil usahatani pada agroekosistem ini sebahagian masih diwarnai oleh rendahnya produksi yang berkaitan erat dengan rendahnya produktivitas lahan. Di beberapa daerah telah terjadi degradasi lahan karena kurang cermatnya pengelolaan konvensional dan menyebabkan petani tidak mampu meningkatkan pendapatannya. Berdasarkan kendala-kendala tersebut, maka untuk menjamin produksi pertanian yang cukup tinggi secara berkelanjutan diperlukan suatu konsep yang aktual dan perencanaan yang tepat untuk memanfaatkan sumberdaya lahan khususnya lahan kering (Marwah, 2001)

Berlainan dengan lahan sawah dataran rendah, agroekologi lahan kering sangat beragam, karena elevasi dan jenis tanah yang berbeda, relatif peka erosi, adopsi teknologi rendah, dan ketersediaan modal kecil (Manwan et al.,1988 dalam Suyana, 2003).

a. Karakterisitik Lahan Kering

Sistem usahatani di lahan kering belum banyak dipahami secara mendalam, biasanya terletak di DAS bagian hulu dan tengah. Kendala lingkungan dan kondisi sosial-ekonomi petani, serta keterbatasan sentuhan teknologi konservasi yang sesuai menyebabkan kualitas dan produktivitas dari sistem usahatani yang ada masih sangat terbatas.

Ciri utama yang menonjol di lahan kering adalah terbatasnya air, makin menurunnya produktifitas lahan, tingginya variabilitas kesuburan tanah dan macam spesies tanaman yang ditanam serta aspek sosial, ekonomi dan budaya. Sedangkan Dudung (1991) dalam Guritno et al. (1997) berpendapat bahwa keadaan lahan kering umumnya adalah lahan tadah hujan yang lebih peka terhadap erosi, dimana adopsi teknologi maju masih rendah, ketersediaan modal sangat terbatas dan infrastruktur tidak sebaik di daerah sawah (Guritno et al. 1997 dalam Hamzah, 2003).

Lahan kering marginal dan yang berstatus kritis biasanya dicirikan oleh solum tanah yang dangkal, kemiringan lereng curam, tingkat erosi telah lanjut, kandungan bahan organik sangat rendah, serta banyaknya singkapan batuan dipermukaan. Sebagian besar lahan marginal tersebut dikelola oleh petani miskin, yang tidak mampu melaksanakan upaya-upaya konservasi, sehingga makin lama kondisinya makin memburuk. Lahan tersebut pada umumnya terdapat di wilayah desa tertinggal, dan hasil pertaniannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup penggarap bersama keluarganya (Suwardjo et al., 1995 dan Karama dan Abdurrachman, 1995 dalam Suyana, 2003).

b. Permasalahan Lahan Kering

Usahatani lahan kering, dalam keadaan alamiah memiliki berbagai kondisi yang menghambat pengembangannya antara lain; keterbatasan air, kesusburan tanah yang rendah, peka terhadap erosi, topografi bergelombang sampai berbukit, produktivitas lahan rendah, dan ketersediaan sarana yang kurang memadai serta sulit dalam memasarkan hasil (Haridjaja, 1990).

Pada kondisi lahan yang telah terdegradasi berat tidak mudah untuk ditingkatkan produktivitasnya, makin parah tingkat kekritisan lahan makin serius gangguan terhadap lingkungan dan makin sukar untuk meningkatkan produktivitas lahannya. Lahan-lahan demikian harus direhabilitasi sesegera mungkin dengan baik, sehingga tidak terancam erosi lagi dan produktivitas lahan dapat ditingkatkan. Mengingat lahan kering marginal dan kritis tersebut sebagian besar terletak di DAS bagian hulu dan tengah, maka pembangunan usahatani konservasi di lahan kering tersebut bukan saja bertujuan untuk meningkatkan produktivitas lahan dan kesejahteraan penduduknya, tetapi fungsinya lebih jauh lagi untuk menyelamatkan lingkungan hidup disekitarnya termasuk sampai daerah hilir (Suyana, 2003).

Oleh karena itu, Sinukaban (1995) menegaskan bahwa di dalam pengelolaan lahan tersebut hendaknya mencakup lima unsur yaitu: (1) perencanaan penggunaan lahan sesuai dengan kemampuannya, (2) tindakan-tindakan khusus konservasi tanah dan air, (3) menyiapkan tanah dalam keadaan olah yang baik, dan (5) menyediakan unsur hara yang cukup dan seimbang bagi tumbuhan.

3. Teknologi Pemanfaatan Lahan Kering

a. Teknologi Pengapuran, Pemupukan dan Pemberian Bahan Organik

Nursyamsi (1996) mengemukakan bahwa teknologi utama dalam pengelolaan tanah masam adalah (1) pengapuran, (2) pemupukan, (3) pemberian bahan organik, dan (4) penggunaan tanaman yang toleran terhadap aluminium. Selanjutnya dikemukakan bahwa pengapuran dan pemupukan P dapat memperbaiki sifat-sifat tanah podsolik pada lahan alang-alang sekaligus meningkatkan produktifitasnya. Pemberian kapur 2 ton/ha pada tanah ultisol di Sitiung A nyata meningkatkan pH tanah, sangat nyata meningkatkan Ca, Mg, basa-basa dan kejenuhan basa tanah, nyata menurunkan C/N, K-HCl dan sangat nyata menurunkan Aluminium dapat ditukar (Al-dd), Hidrogen dapat ditukar (H-dd) dan tingkat kemasaman tanah.

Pemberian kapur dan pupuk hijau meningkatkan pertumbuhan dan hasil kedele (Hartatik, 1987). Selanjutnya dikemukakan bahwa pengapuran setara 1-2 kali Al-dd dapat menurunkan kejenuhan Aluminium sampai bawah batas toleransi tanaman kedele dan pemberian pupuk hijau dapat mengurangi jumlah kebutuhan kapur.

Safuan (2002) menyimpulkan bahwa untuk meningkatkan peroduktifitas sistem pertanian lahan kering masam di daerah tropika secara berkelanjutan dapat dilakukan melalui: (1) pemulsaan dan pengolahan tanah, (2) penambahan bahan organik, kapur dan pupuk NPK, (3) optimalisasi pola tanam, dan (4) konservasi tanah.

b. Teknologi Konservasi Tanah dan Air

Pengolahan tanah konservasi (conservation tillage) adalah setiap cara pengolahan tanah yang bertujuan untuk mengurangi besarnya erosi, aliran permukaan dan, kalau mungkin, dapat mempertahankan atau meningkatkan produksi (Sinukaban, 1990). Selanjutnya dikemukakan bahwa untuk memenuhi kriteria tersebut pengolahan tanah harus dapat menghasilkan permukaan tanah yang kasar sehingga simpanan depresi dan infiltrasi meningkat, serta dapat meninggalkan sisa-sisa tanaman dan gulma pada permukaan tanah agar dapat menahan energi butir hujan yang jatuh. Hal ini menjadi penting pada masa pertanaman, karena pada saat tersebut intensitas hujan umumnya sudah besar dan tidak ada tajuk tanaman yang dapat menahan energi butir hujan yang jatuh.

Menurut Arsyad(1983), usaha-usaha pengawetan (konservasi) tanah ditujukan untuk: (1) mencegah kerusakan tanah oleh erosi, (2) memperbaiki tanah yang rusak, (3) dan menetapkan kelas kemampuan tanah dan tindakan-tindakan atau perlakuan agar tanah tersebut dapat dipergunakan untuk waktu yang tidak terbatas (berkelanjutan). Selanjutnya dikemukakan bahwa pengawetan air pada prinsipnya adalah penggunaan air yang jatuh ke tanah seefisien mungkin, dan pengaturan waktu aliran sehingga tidak terjadi banjir yang merusak dan terdapat cukup air pada waktu musim kemarau.

Tiap kelas penggunaan tanah memerlukan teknik pengawetan tanah tertentu. Adapun teknik pengawetan tanah dapat dibagi dalam tiga golongan utama, yaitu (1) metoda vegetatif, (2) metoda mekanik dan (3) metoda kimia (Arsyad, 1983). Metoda yang lazim dipraktekkan di Indonesia umumnya adalah metoda vegetatif yang seringkali dikombinasikan dengan metoda mekanik, misalnya penanaman penutup tanah sebagai penguat teras atau sebagai penutupan permukaan dari hantaman butir hujan, pengolahan tanah dan penanaman menurut kontur, sistem pertanaman lorong (Alley Cropping) sampai kepada sistem yang paling sederhana yaitu penggunaan mulsa.

Teknik budidaya lorong sebagai salah satu teknik konservasi tanah dan air untuk pengembangan sistem pertanian berkelanjutan pada lahan kering di daerah tropika basah, namun belum diterapkan secara meluas oleh petani (Juo, Caldwell, dan Kang, 1994). Pada budidaya lorong konvensional, tanaman pertanian ditanam pada lorong-lorong di antara barisan tanaman pagar yang ditanam menurut kontur. Barisan tanaman pagar yang rapat diharapkan dapat menahan aliran permukaan serta erosi yang terjadi pada areal tanaman budidaya, sedangkan akarnya yang dalam dapat menyerap unsur hara dari lapisan tanah yang lebih dalam untuk kemudian dikembalikan ke permukaan melalui pengembalian sisa tanaman hasil pangkasan tanaman pagar.

Efektivitas budidaya lorong pada lahan pertanian berlereng miring dalam pengendalian aliran permukaan dan erosi ditentukan oleh perkembangan tanaman pagar serta jarak antar barisan tanaman pagar. Pada awal penerapan budidaya lorong aliran permukaan dan erosi dapat menerobos tanaman pagar yang belum tumbuh merapat, meskipun ditanam lebih dari satu baris tanaman. Pada kondisi demikian, tanaman pagar kurang efektif dalam menghambat aliran permukaan dan menjaring sedimen yang terangkut, sehingga dapat menghanyutkan pupuk dan bahan organik. Setelah tanaman pagar berkembang, persaingan penyerapan air, unsur hara dan sinar matahari antara tanaman pagar dengan tanaman budidaya dapat mengurangi produksi tanaman yang dibudidayakan (Brata, 2001).

Thorne dan Thorne (1978) dalam Hafif (1992) mengemukakan terdapat lima praktek pengelolaan lahan yang dapat mengurangi erosi yaitu: (1) vegetasi (2) sisa tanaman, (3) pengelolaan tanah, (4) efek sisa dari rotasi tanaman, dan (5) praktek pendukung mekanik.

c. Teknologi Konservasi Hedgerows

Upaya memperbaiki lahan marginal dan kritis sebenarnya telah dilakukan pemerintah sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu melalui reboisasi dan penghijauan, tatapi upaya tersebut masih jauh dari berhasil. Demikian pula anjuran pembuatan teras juga masih dianggap mahal dan pemborosan tenaga bagi petani (Nurhayati Hakim et al., 1993). Kegiatan konservasi tanah akan mudah diterapkan petani jika selain efektif dalam mengendalikan erosi, produktivitas lahan juga dapat ditingkatkan. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa metode vegetatif banyak direkomendasikan karena selain dapat menekan erosi juga dapat menjamin peningkatan produktivitas lahan (Abdurrachman et al., 1984; Sukmana dan Suwardjo, 1991).

Selama ini sebenarnya sudah cukup banyak paket teknologi usahatani konservasi yang telah dikembangkan, namun untuk menciptakan sistem pertanian lestari secara mandiri tidaklah cukup hanya dengan satu usaha saja. Teknologi konservasi hedgerows adalah salah satu komponen usaha pelestarian yang harus dipadukan dengan serangkaian kegiatan yang bersifat teknis, sosial budaya, dan kebijaksanaan. Teknologi konservasi hedgerows secara teknis mencerminkan bentuk-bentuk pagar hidup dari tanaman legum pohon, tanaman penguat teras, dan tanaman penutup tanah yang diatur mengikuti garis-garis kontur (Ginting dan Sukandi, 1992; Sudaryono, 1995).

Menurut Hawkins et al (1991), usahatani dengan teknologi konservasi hedgerows merupakan suatu praktek usahatani dengan memadukan tindakan konservasi secara sipil teknis (mekanik) dan biologis (vegetatif) dengan pengaturan tata ruang tanaman semusim, tanaman tahunan, tanaman legum untuk konservasi sekaligus sebagai penghasil pupuk organik dan hijauan pakan ternak, serta rumput; dengan memperhatikan bentuk muka dan ciri bentang lahan.

Sistem tanam pada usahatani konservasi dengan teknologi hedgerows merupakan kombinasi antara tanaman penguat teras, tanaman penutup tanah, tanaman semusim, dan tanaman tahunan. Tanaman semusim dan tanaman tahunan merupakan tanaman yang biasa diusahakan petani setempat. Tanaman semusim terdiri atas tanaman serealia dan palawija, seperti padi gogo, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, dan ubi kayu. Sedangkan tanaman tahunan diantaranya mangga, petai, nangka, melinjo, dan kelapa (Sudaryono, 1995). Adapun jenis-jenis tanaman yang umum digunakan dalam tanaman pagar, penguat teras dan penutup tanah, meliputi: (a) jenis leguminosa perdu maupun pohon yang sering digunakan sebagai penguat teras dan tanaman pagar dalam sistem pertanaman lorong, seperti: Lamtoro, Kaliandra, Flemingia, Gliriside, dan Hiris; (b) jenis rumput yang sering digunakan sebagai tanaman penguat teras, yaitu meliputi jenis rumput yang ditanam di bibir teras (biasanya rumput yang membentuk rumpun seperti rumput gajah, setaria, dan benggala), dan jenis rumput yang ditanam di tampingan teras (biasanya tumbuh menjalar seperti Brachiaria sp, Cynodon dactylon, Paspalum conjugatum, Penicum repens); dan (c) tanaman penutup tanah, diantaranya Mucuna sp dan Centrosema sp (Abdurrachman dan Prawiradiputra, 1995; Sudaryono,1995).

Teknologi konservasi hedgerow mempunyai peluang besar untuk diadopsi petani lahan kering, karena tanaman hedgerows selain berfungsi mengendalikan aliran permukaan dan erosi, juga memproduksi biomassa pertanian yang berguna untuk rehabilitasi dan penyubur tanah, menghasilkan hijauan pakan ternak yang kaya nutrisi, dan menghasilkan kayu bakar untuk keperluan rumah tangga dan industri pedesaan (pembakaran bata merah, batu gamping, dan sebagainya).

Pola usahatani dengan teknologi hedgerows melibatkan beberapa jenis tanaman akan menghasilkan ekosistem yang saling menguntungkan, misalnya residu atau daun yang diambil dari hasil pangkasan tanaman pagar yang dilakukan secara periodik dapat dipakai sebagai mulsa atau dimasukkan ke dalam tanah sebagai pupuk hijau bagi tanaman semusim (Baldy and Stigter, 1997). Hasil pangkasan pupuk hijau yang dipakai sebagai mulsa akan dapat mengurangi penguapan lengas tanah, mengendalikan gulma, dan menstabilkan suhu tanah daerah perakaran sehingga memberi jaminan pertumbuhan akar tanaman secara baik (Hawkins et al., 1991).

d. Teknologi Usahatani Terpadu

Menurut Abdurrachman et al., (1997), petani lahan kering tidak mungkin hidup jika ekonomi rumah tangganya hanya tergantung kepada hasil tanaman. Oleh karena itu menurut Abdurrachman et al., (1997) pendekatan yang tepat untuk menjawab tantangan tersebut di atas adalah melalui pendekatan sistem usahatani yang memadukan komoditas tanaman pangan/semusim dengan tanaman tahunan dan ternak dalam suatu model usahatani yang serasi dengan mempertimbangkan ketersediaan sumberdaya yang dimiliki petani.

Model usahatani terpadu yang dikemukakan oleh Abdurrachman et al., (1997) meliputi padi gogo dan palawija (tanaman pangan) yang diatur penanamannya dalam pola tanam setahun, disesuaikan dengan pola curah hujannya seluas 1 ha, tanaman karet seluas 1 ha dan saat penelitian dimulai sudah siap sadap serta ternak yang awalnya terdiri atas 1 ekor sapi, 3 ekor kambing dan 11 ekor ayam buras. Dengan menerapkan model usahatani tersebut pendapatan petani meningkat dari 1.4 juta/tahun pada tahun 1988\1989 menjadi 2.3 juta/tahun pada tahun 1990\1991, sedangkan pendapatan petani yang tidak menerapkan teknologi model usaha tani tersebut berkisar antara 1,1-1,2 juta/tahun.

Dalam model usahatani ini juga terdapat interaksi komplementer antara pengusahaan tanaman dan ternak. Tanaman pangan semusim menghasilkan sisa tanaman (biomass) yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan tambahan, di samping rumput atau tanaman pakan (glyricideae atau flemingia) yang sengaja ditanam juga untuk mencegah erosi, sementara ternak memberikan tenaga dan kotoran yang dapat dijadikan pupuk untuk menunjang produksi tanaman. Dengan demikian komoditas tanaman dan ternak ini dapat saling mendukung sistem produksi terlanjutkan (berkelanjutan) apabila dikelola dengan baik. Ditinjau dari kemampuannya dalam meningkatkan produksi dan pendapatan, menurut Abdurrachman et al., (1997), modal usahatani yang melibatkan tanaman dan ternak tersebut sangat tepat dikembangkan di lahan kering termasuk di wilayah Timur Indonesia. Namun demikian, pemilihan jenis taaman dan ternaknya disesuaikan dengan kondisi ekonsistem dan peluang pasar setempat.

Dengan adanya sistem usaha pertanian terpadu, maka diharapkan akan diperoleh keuntungan, antara lain: meningkatkan populasi ternak, buah-buahan, membuka lapangan kerja di pedesaan, keberhasilan konservasi tanah dan air, peningkatan pendapatan/kesejahteraan petani lahan kering (Akhadiarto, 1997).

e. Seleksi Tanaman Adaptif Pada Kondisi Cekaman Lingkungan

Masalah mendasar dan tantangan berat yang harus dihadapi pada lahan kritis adalah bagaimana mengubah lahan tersebut menjadi lahan produktif dan bagaimana menghambat agar lahan kritis tidak semakin meluas. Karena itu berbagai teknik rehabilitasi dan sistem budidaya yang tepat telah banyak dicobakan pada lahan kritis tersebut.

Upaya-upaya yang selama ini dilakukan membutuhkan biaya yang cukup besar dan memerlukan dukungan semua pihak serta perlu dukungan ahli ekofisiologi dan pemulia tanaman untuk menghasilkan varietas tanaman pangan yang adaptif pada lahan kritis yang memiliki karakteristik cekaman lingkungan tertentu (kesuburan rendah, ketersediaan air terbatas/berlebih dan lain-lain). Tanaman pangan adaptif yang dimaksud adalah tanaman yang di satu sisi mampu beradaptasi dan di sisi lain mampu berproduksi secara optimal sehingga dapat diharapkan sebagai penyedia pangan di masa mendatang.

Pemuliaan tanaman konvensional akan tetap memegang peranan utama dalam perbaikan varietas. Berbagai kelemahan dan keterbatasan cara ini dapat diatasi dengan bantuan bioteknologi. Secara bertahap, bioteknologi akan dikembangkan untuk mendapatkan atau memindahkan gen tertentu untuk menghasilkan varietas baru dengan sifat-sifat yang diinginkan. Meningkatkan produktivitas melalui rekayasa genetik merupakan suatu keuntungan tambahan dalam perbaikan sifat tanaman sehingga varietas yang dihasilkan diharapkan dapat lebih efisien memanfaatkan hara, tahan terhadap hama dan penyakit serta deraan lingkungan (Manwan, 1993).

Informasi mengenai sifat-sifat yang mudah teramati dapat dijadikan penduga bagi sifat yang dituju dalam seleksi tanaman adaptif. Semakin erat hubungan antara sifat penduga dengan sifat yan dituju, maka akan semakin memudahkan proses seleksi. Sifat-sifat yang berperan menentukan adaptif tidaknya suatu tanaman yang ekspresinya sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Oleh sebab itu fenotipe yang ditemui di lapangan akan sangat beragam. Adapun syarat-syarat seleksi tanaman adaptif terhadap lingkungan kritis adalah tahan terhadap pH tanah rendah, toleran terhadap cekaman air, tahan terhadap defisiensi hara terutama N dan P dan lain-lain.

REFRENSI

Brata, Kamir R. 2001. Falsafah Sains Untuk Penyempurnaan Teknik Budi Daya Lorong (Alley Cropping) Pada Lahan Pertanian Berlereng. Makalah Pengantar ke Falsafah Sains. Program Pasca Sarjana. IPB.

Haridjaja, O. 1990. Pengembangan Pola Usahatani Campuran pada Lahan kering yang Berwawasan Lingkungan di Kabupaten Sukabumi. Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian, IPB, Bogor.

Hamzah, Umur. 2003. Prospek Pemanfaatan Lahan Kering Dalam Rangka Mendukung Ketahanan Pangan Nasional. Makalah Pengantar Falsafah Sains. Program Pasca Sarjana/S3. IPB.

Machfudz. 2001. Peningkatan Produktivitas Lahan Kritis Untuk Pemenuhan Pangan Melalui Usahatani Konservasi. Makalah Falsafah Sains. Program Pasca Sarjana/S3. IPB.

Marwah, Sitti. 2001. Daerah Aliran Sungai (DAS) Sebagai Satuan Unit Perencanaan Pembangunan Pertanian Lahan Kering Berkelanjutan.. Makalah Falsafah Sains. Program Pasca Sarjana/S3. IPB.

Suyana, Jaka. 2003. Penerapan Teknologi Konservasi Hedgerows Untuk Menciptakan Sistem Usahatani Lahan Kering Berkelanjutan. Pengantar Falsafah Sains. Program Pasca Sarjana/S3. IPB.

Yudohusodo Siswono. 2003. Kebijakan Pangan yang Menyejahterakan Petani. Harian Kompas 26 Mei 2003 hal. 15Yudohusodo S. 2003 - Kebijakan Pangan yang Menyejahterakan Petani. Harian Kompas 26 Mei 2003 hal. 15

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar